Disdak Capil DKI Jakarta hapus bisnis Justisi, begini cara pantau pemain baru

Disdak Capil DKI Jakarta hapus bisnis Justisi, begini cara pantau pemain baru
Disdak Capil DKI Jakarta hapus bisnis Justisi, begini cara pantau pemain baru

sitekit.co.id – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memilih untuk tidak melanjutkan kampanyenya

dalam menekan jumlah pendatang baru.
Langkah untuk menghentikan razia KTP secara acak di berbagai wilayah di Jakarta telah dilakukan sejak tahun 2018.

Pendekatan yang berbeda dilakukan dengan mengoptimalkan peran pengurus wilayah di tingkat paling bawah – RT dan RW. Selain itu, kegiatan yustisi dianggap tidak efektif dalam mengatasi arus pendatang baru di Jakarta.

Bacaan Lainnya

Budi Awardin, Direktur Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Pemprov DKI Jakarta, mengatakan bahwa pihaknya saat ini sedang gencar melakukan sosialisasi, terutama kepada warga yang memiliki KTP,
“Secara khusus, kami melakukan sosialisasi lebih aktif kepada warga yang memiliki KTP namun tidak tinggal menetap di Jakarta atau bukan berasal dari wilayah Jakarta.

Kami memberikan bimbingan dan pengawasan kepada rukun tetangga dan juga menawarkan layanan jemput bola ke sekolah-sekolah. Ini merupakan bagian dari sosialisasi tertib administrasi kependudukan dan kami mendorong masyarakat untuk melakukan pemutakhiran data kependudukan
ujar Budi dalam keterangan resmi yang diterima sitekit.co.id, Minggu (21/4/2024).

Sejak April 2023, Budi menjelaskan bahwa pihaknya juga telah melakukan penataan dan pengelolaan dokumen kependudukan di wilayah DKI Jakarta. Hasilnya, hingga saat ini sudah ada 131.000 penduduk yang telah melakukan perpindahan dokumen kependudukan sesuai dengan tempat tinggalnya.
Data sesuai dengan tempat tinggal

Perbedaan data kependudukan, khususnya di DKI Jakarta, telah menimbulkan sejumlah masalah, terutama dalam penanganan masalah kesejahteraan sosial ekonomi,
terutama data alokasi perumahan bersubsidi, seperti rumah susun sewa, yang seharusnya diperuntukkan bagi penduduk tetap DKI Jakarta, dan penyaluran subsidi.

Budi juga menyatakan bahwa jumlah pendatang diperkirakan akan menurun setelah arus balik Lebaran 2024. Lebih lanjut, beliau menyatakan bahwa peningkatan jumlah penduduk baru di Jakarta setelah Lebaran 2024 akan dibatasi antara 10.000 hingga 20.000 jiwa.

Perkiraan ini didasarkan pada perhitungan data penambahan penduduk baru di Jakarta yang terus mengalami penurunan. Budi menjelaskan bahwa pada tahun 2022, jumlah penambahan penduduk setelah Idul Fitri mencapai sekitar 27.000 jiwa,
sedangkan pada tahun 2023 hanya mencapai 25.000 jiwa.

“Jumlah pendatang baru pada Januari (hingga Maret) 2024 juga 9.000 di Januari, 6.000 di Februari dan 6.000 di Maret, jauh berbeda dengan rata-rata bulanan di tahun 2022 dan 2023… Rata-rata bulanan di tahun 2022 adalah 12.000 di tahun 2023,
2023 sekitar 11.000,” kata Budi dalam keterangan yang diterima sitekit.co.id, Minggu (21/4/2024).

Secara keseluruhan, jumlah pendatang baru di Jakarta pada tahun 2022 mencapai lebih dari 151.000 orang. Angka ini menurun pada tahun 2023 menjadi hanya 136.000.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *